HomeSepak BolaLeicester City Dijual Setelah Terdegradasi ke League One, Begini Kondisinya

Leicester City Dijual Setelah Terdegradasi ke League One, Begini Kondisinya

Inggris – Leicester City tengah memasuki babak baru yang sangat berbeda dari masa kejayaan mereka satu dekade lalu. Klub yang pernah membuat sejarah dengan memenangkan Premier League kini resmi berada di pasar penjualan setelah pemiliknya, King Power, membuka peluang untuk melepas kepemilikan klub.

Keputusan tersebut datang ketika kondisi Leicester sedang berada di titik sulit. The Foxes harus menjalani musim 2026/2027 di League One setelah mengalami dua degradasi secara beruntun.

King Power disebut memasang nilai penjualan di atas 200 juta pounds. Proses pencarian calon pembeli dipercayakan kepada bank investasi asal Amerika Serikat, Citigroup.

King Power Mulai Cari Pembeli

King Power telah menunjuk Citigroup untuk membantu menangani proses penjualan Leicester City.

Dalam proses tersebut, calon investor diperkenalkan dengan dokumen yang menggunakan nama proyek “Project Lineup”. Paket yang ditawarkan bukan hanya menyangkut tim utama putra.

Tim putri, akademi, King Power Stadium, serta kompleks latihan Seagrave juga termasuk dalam aset yang ditawarkan kepada calon investor.

Stadion King Power memiliki kapasitas sekitar 32 ribu penonton, sementara fasilitas latihan Seagrave yang mulai digunakan pada 2020 merupakan salah satu aset bernilai tinggi milik klub.

Kondisi Keuangan Jadi Perhatian

Situasi finansial menjadi salah satu persoalan besar yang harus diperhatikan calon pemilik baru.

Leicester diperkirakan membukukan pendapatan lebih dari 97 juta pounds untuk tahun keuangan 2026. Namun, klub juga mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir.

Kerugian yang tercatat sepanjang periode 2023 hingga 2025 dilaporkan mencapai lebih dari 180 juta pounds. Leicester juga memiliki pinjaman bank sekitar 103,6 juta pounds.

Angka-angka tersebut membuat proses penjualan Leicester tidak sekadar berkaitan dengan nilai aset klub. Investor potensial juga harus mempertimbangkan kebutuhan finansial untuk membawa The Foxes kembali ke level kompetitif.

Dari Kejayaan ke League One

Perubahan nasib Leicester terasa sangat drastis jika melihat perjalanan klub sejak kedatangan keluarga Srivaddhanaprabha.

King Power mengambil alih Leicester pada 2010. Saat itu, klub masih berjuang di kompetisi kasta kedua Inggris.

Beberapa tahun kemudian, Leicester berhasil promosi ke Premier League dan kemudian menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Pada musim 2015/2016, Leicester secara mengejutkan keluar sebagai juara Premier League.

Dengan status sebagai tim yang sebelumnya tidak diunggulkan, keberhasilan tersebut menjadi salah satu kisah paling ikonik dalam sejarah kompetisi.

Sempat Menambah Trofi

Kesuksesan Leicester ternyata tidak berhenti pada gelar Premier League.

The Foxes juga berhasil mengangkat trofi FA Cup pada 2021. Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa klub sempat berkembang menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan di sepak bola Inggris.

Namun, situasi berubah dalam beberapa tahun berikutnya.

Leicester kemudian mengalami masalah performa dan finansial. Setelah terdegradasi dari Premier League, mereka gagal kembali ke jalur positif dan akhirnya harus turun lagi ke League One.

Dua Degradasi Beruntun

Leicester sekarang harus memulai perjalanan dari kasta ketiga sepak bola Inggris.

Degradasi ke League One menjadi kenyataan setelah Leicester gagal menyelamatkan diri dari Championship pada musim sebelumnya. Hukuman pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan finansial juga ikut memperberat situasi klub.

Dengan demikian, Leicester mengalami dua degradasi secara beruntun.

Kondisi tersebut terasa semakin ironis karena hanya sekitar satu dekade sebelumnya mereka masih mengangkat trofi Premier League.

Masa Depan Leicester Menjadi Tanda Tanya

Penjualan klub membuka kemungkinan terjadinya perubahan besar di Leicester.

Pemilik baru nantinya harus menghadapi sejumlah pekerjaan berat, mulai dari memperbaiki kondisi finansial hingga membangun kembali kekuatan tim agar mampu kembali ke Championship dan kemudian mengejar tiket promosi ke Premier League.

Nilai aset klub menjadi salah satu daya tarik utama. Namun, kondisi olahraga dan keuangan Leicester juga membuat calon investor harus menyiapkan strategi jangka panjang.

Bagi suporter, kedatangan pemilik baru tentu diharapkan dapat menjadi awal dari proses kebangkitan.

Akhir Sebuah Era King Power?

King Power telah menjadi bagian penting dalam perjalanan modern Leicester City sejak mengambil alih klub pada 2010.

Di bawah kepemilikan tersebut, Leicester mengalami perjalanan luar biasa: dari klub Championship, promosi ke Premier League, memenangkan gelar liga, meraih FA Cup, hingga akhirnya kembali terpuruk ke kasta ketiga.

Kini, setelah 16 tahun mengelola klub, King Power membuka pintu untuk pemilik baru.

Jika proses penjualan berhasil, Leicester akan memasuki era baru. Tantangannya jelas tidak mudah, tetapi sejarah klub menunjukkan bahwa The Foxes pernah bangkit dari posisi yang jauh lebih rendah untuk mencapai puncak sepak bola Inggris.

Dari juara Premier League hingga League One, Leicester kini berada di persimpangan penting dalam sejarah klub.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments